Endangered Today : Badak


Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Mammalia
Order: Perissodactyla
Family: Rhinocerotidae

Dalam sesi Endangered Today pertama ini, saya akan membahas tentang badak, yang lebih dikenal dengan Rhinoceros dalam bahasa Inggris. Makhluk bercula ini tentunya sudah akrab dikenal oleh kita semua, bahkan ketika anda SD dan menemukan kartu bergambar badak di seri kartu binatang yang dimiliki oleh anda. Tapi, sejauh mana anda mengetahui tentang binatang langka ini? Yuk kita bicarakan.

Tahukah anda, bahwa badak sudah menghuni dunia ini jauh sebelum kakeknya-neneknya-buyutnya-neneknya-kakeknya-buyutnya-kakek anda? Nenek moyang badak, Hyrachyus eximus, berbentuk kecil seperti tapir tanpa ada cula sama sekali, kalau anda membayangkan yang paling gampang adalah seperti kuda kecil. Hyrachyus inilah yang berevolusi selama jutaan tahun menjadi beberapa famili, seperti kuda, tapir, dan rhinocerotidae yang kita kenal sekarang. Diduga hidup dari 15 juta tahun yang lalu, beberapa species dari rhinocerotidae ini kemudian masuk ke asia 10.000 tahun yang lalu, dan daerah yang ditempatinya antara lain adalah pulau sumatera dan jawa.

Hingga kini, hanya tinggal 5 jenis badak yang ada dunia. Pertama adalah badak putih, badak hitam, badak india, badak jawa dan badak sumatera. Dan kelima-limanya dalam kondisi langka dan sangat langka. Untuk kali ini, saya akan lebih menceritakan tentang 2 jenis badak asli dari Indonesia ini.

Badak Sumatera memiliki bentuk tubuh agak kecil dengan tubuh pendek, dan kepala agak lancip. Sebagai jenis badak yang diakui paling tua di dunia, binatang malang ini hanya tinggal terdapat 300 ekor di planet ini. Sebagian besar terdapat di sumatra,lalu sebagian lagi di malaysia dan sabah. Sebagian besar alasan mengapa badak ini semakin berkurang populasinya adalah antara lain karena perburuan liar dan penebangan hutan di pulau sumatera untuk dijadikan tanah pertanian kelapa sawit. Pihak WWF-Indonesia, mengatakan bahwa pentingnya edukasi masyarakat untuk mencegah perambahan hutan lebih lanjut daripada ini dan mengusahakan pertanian kelapa sawit yang telah ada dengan sistem intenfisikasi pertanian dan bukan dengan ekstentifikasi. Banyak masyarakat yang belum teredukasi, tanpa disadari, terus merambah hutan tanpa menanamnya kembali. Padahal, selain merusak ekosistem makhluk hidup lain, hal ini juga berakibat buruk terhadap masyarakat yang hidup di sekitar daerah tersebut. Hutan yang berfungsi sebagai daerah resapan air, semakin sedikit sehingga tidak dapat lagi menampung air hujan. Hal ini mengakibatkan banjir yang terus menerus dan daerah yang tidak dapat ditanami lagi. Contohnya dapat dilihat di Kalimantan Selatan yang sudah tidak layak ditempati lagi karena hutan sudah tidak ada lagi akibat pertambangan. Banjir terus terjadi dan masyarakat hanya hidup memikirkan banjir yang terjadi secara rutin. Dari 10 tahun terakhir, hutan di sumatera hanya tersisa kurang dari 20%. Apabila hal ini terus dilakukan, daerah cagar alam seperti way kambas, guunung leuser dan bukit barisan selatan yang menjadi habitat badak sumatera ini juga akan menghilang.

Badak Jawa, selain terdapat di pulau Jawa, juga terdapat sebagian kecil di Vietnam. Hal yang perlu anda ketahui adalah, hanya tinggal terdapat 40 nyawa tersisa dari spesies ini, dan sebagian besar terdapat di taman nasional ujung kulon. Jumlah ini bahkan lebih kecil dari jumlah siswa di sebuah taman bermain anak-anak! Berbagai cara telah dilakukan pemerintah dan organisasi-organisasi swasta untuk mempertahankan nasib hewan ini, seperti diadakannya Patroli Badak (Rhino Protection Unit) oleh yayasan mitra rhino, WWF, dan YAI, guna melindungi badak-badak ini dari pemburu yang tidak bertanggung jawab. Salah satu problem utama yang dihadapi saat ini adalah sulitnya mencegah in-breeding (perkawinan sesama keluarga) yang terjadi diantara 40 ekor badak yang tersisa ini. Dengan jumlah yang segitu minimnya, sulit untuk melakukan perkawinan normal di cagar alam. Oleh karena itu, saat ini pihak RhinoSanctuary sedang mengadakan sensus DNA melalui kotoran yang ada untuk menentukan hubungan keluarga mereka. Dan tidak seperti badak putih di Amerika yang dapat beradaptasi dengan cagar alam ex-situ seperti kebun binatang, badak jawa lebih sensitif dan tidak dapat menahan stress apabila ditempatkan di tempat yang sempit. Semua hal ini menjadi kendala yang berat dalam menyelamatkan hewan sangat langka ini.

Selain dari itu, ketiga badak lainnya juga dalam taraf mengkhawatirkan. Hal yang menjadi alasan utama mengapa penurunan ini terus terjadi adalah fakta bahwa masih banyak manusia khususnya di dataran cina, yang mempercayai bahwa cula dari binatang tak bersalah ini dapat berfungsi sebagai aphrodisiac (baca: Obat kuat). Padahal, penelitian para ahli membuktikan bahwa cula badak hanyalah terdiri dari komponen filamen dan substansi yang tak lain dan tak kurang, sama seperti rambut kita. Di Yaman, cula ini juga sering dipakai sebagai pedang yang dipakai untuk menentukan kehormatan seseorang disuatu suku. Sampai saat ini, terus ditemukan perdagangan cula ilegal di Asia. Harga per kg nya mencapai 120jt di Hongkong dan Taiwan. Suatu harga yang tidak seimbang dibanding kepunahan satu spesies di dunia.. Disamping ini adalah tindakan sadis yang dilakukan terhadap seekor badak putih di Nepal, untuk culanya. Badak yang terluka parah karena dipotong hidup-hidup itu berhasil diselamatkan setelah ditemukan oleh seorang turis tergeletak lemah di dekat danau. Bahkan, terdapat juga mitos bahwa kuku dan isi perut hewan malang ini dapat dijadikan obat alternatif.

Interesting Facts About Rhinos

1. Badak merupakan binatang yang sangat pemalu dan tidak mau berkontak dengan manusia
2. Badak memiliki jalur tetap berbentuk oval seluas kurang lebih 18 km persegi.
3. Badak birahi hanya sekali dalam sebulan
4. Badak betina mengeluarkan feromonnya melalui kuku, cula dan urin nya.
5. Badak senang berendam dalam lumpur untuk menurunkan panas tubuhnya.
6. Badak merupakan makhluk yang romantis, mereka terlebih dahulu berpacaran selama kurang lebih 5 hari, makan, minum dan berendam bersama sebelum menentukan apakah mereka pasangan yang cocok dan menikah.

Apa yang bisa kita lakukan?
1. Cegah penjualan cula badak, baik dalam bentuk ekstrak atau pil. Hal ini bisa dilakukan dengan melaporkan penjual tersebut kepada polisi atau memberikan pengarahan ke penjual tersebut terhadap fakta ini!
2. Gunakan produk-produk kayu seperti kertas, tissue, seefektif mungkin! Mulailah gunakan kertas bolak balik, selamatkan hutan dan ekosistem kita!
2. Beritahu saudara, teman, atau kenalan anda mengenai hal ini. Ubah pola pikir mereka yang tidak mempedulikan hal yang mendesak ini. Tindakan penyebaran berita ini sepintas sepele, tapi anda telah melakukan kontribusi besar dalam menyelamatkan nyawa hewan ini.
3. Sumbang dan bantu organisasi-organisasi yang bergerak dalam upaya pelestarian badak ini. Seperti misalnya melalui WWF dalam program "Adopt a Javan Rhino". Setiap dana yang anda berikan, tentu hanya anda yang dapat merasakan pahalanya nanti.
4. Copy paste article ini di notification/wall facebook, kolom chatting, ataupun email ke teman-teman anda!

~Salam satwa~

Bagi yang ingin bertanya atau memberi kritik dan saran, silahkan mengisi komentar dibawah ini.

Kredit gambar : Badak Sumatera (http://www.aazkbfr.org/images/indonesia/slides/sumatranrhino.jpg), Badak Jawa (http://www.marcecko.com/media/Rhinos/Know%20Your%20Rhinos/Javan%20Rhino%201.jpg), Cula badak (http://www.chinadaily.com.cn/world/images/attachement/jpg/site1/20090205/0013729e42ea0af4a2fe25.jpg)

Endangered Today: Save our Hawksbill Turtle!

Today's review is about Hawksbill Turtle (Eretmochelys imbricata) or mostly known as "Penyu Sisik" in Indonesia.


Hawksbill Turtle is a critically endangered sea turtle species, classified by World Conservation Union. The reasons are because of their long lifespans, slow growth and maturity, and slow reproductive rates. Many adult turtles have been killed by humans both deliberately and incidentally. In addition, the nesting sites of the turtles are also threatened by human and animal encroachment. Small mammals have been known to raid the nesting sites and dig up the turtles' eggs. Human fishing practices, like in China and Japan, who eats them for their flesh and take their shells for decorative purposes, is the biggest threat.

Indonesian Archipelago, is one of their subpopulation in Indo-Pacific Region. Sadly but true, in near future, there will be no longer hawksbill turtle anymore in Indonesia, ProFauna said that their population in Indonesia decrease for about 50% every year. The nearest ecosystem that we can found in Indonesia is in Kepulauan Seribu, only miles away from Jakarta.

VOA news stated that the waters of Jakarta Bay are heavily polluted. Garbage dumped by the city's 12 million residents into canals that crisscross the city eventually finds its way to the sea. One study has declared the bay a "dying ecosystem." But just an hour out of Jakarta by speedboat, the murky waters turn to clear blue sea around Pramuka Island.
Turtle conservationist Salim displaying a hawksbill turtle on Pramuka island (Jul 2007)
Turtle conservationist Salim displaying a hawksbill turtle on Pramuka island (Jul 2007)
Twenty years ago the turtles laid eggs on almost all the islands here. Now their nests are found on only around 3 of the 110 islands, thanks to the pollution, and hunting.
To preserve the species, local officers collects eggs from their nests and brings them to huge water-filled storage tanks until the turtles grow strong enough to be released to the sea.
More than 20,000 people living on the six islands in the park to protect the hawksbills.

"Human beings are also a big threat to the turtles," said Salim, one of conservationist . "People are careless. They take the eggs, and turtles also die in fishing nets. It's not eagles or big lizards, but humans who are the biggest predators of the turtles."
Hawksbill Turtle's flesh and shells have high economical price in Indonesia, people buy their shells for IDR 300.000 each, for their own satisfaction such as for decoration or their accessories. Deforestation of mangroves and pollution from nearby ships that reduce sea water's quality also threaten their population. But on top of it, because plastic bags in the ocean resemble jelly fish, and sea turtles eat jelly fish, turtles like this Green Sea Turtle, eat plastic bags that clog up their digestive tract and even kill them. What a way to go people! Please realize that you are making contribution in killing them.

FYI, here's a pic of deformed turtle. It's simply because there's plastic ring garbage stuck on its stomach since it was small.



Even though Salim has spent his life trying to protect and preserve the turtles for future generations, experts are not optimistic the turtles will be able to survive much longer -- so close to the filth of Jakarta bay.
What can we do?
1.
Stop buying any products made by turtle shells
2. Don't throw garbages on any other places except garbage can
3. Join local organization such as ProFauna to actively contribute
4. Cut any plastic rings before you throw them off
5.
Educate your family, friends, relatives, about this issues and make them participate!

Please guys, start making simple actions right now!

"Kalo bukan kita, siapa lagi?!"

2 Sumatran Tigers Were Released!

Hari Jumat, 22 Januari 2010 lalu, 2 harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) dilepas liarkan di Tambling Wildlife Nature Conservation, yang terletak di kawasan Panimbangan, Lampung Barat. 2 harimau tersebut yang bernama Buyung dan Panti ditemukan bersama 4 ekor harimau lainnya tertangkap di kawasan pemukiman Aceh Selatan, Nanggro Aceh Darussalam karena menyerang ternak milik warga.

Buyung, harimau jantan berusia 6-7 tahun berbobot 121kg dan harimau betina bernama Panti yang berbobot 80kg serta berumur 5-6 tahun ini dianggap sudah sehat dan dapat dilepasliarkan dengan tujuan agar mereka dapat bereproduksi dengan 50 ekor harimau Sumatra lainnya yang menurut pengamatan berada di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan ini.

Pelepasan dilakukan di tengah lapangan rumput luas dengan penjagaan memadai berupa senjata bius kalau-kalau mereka berdua nyasar ke arah yang tidak diinginkan :) Pukul 3 sore, Tommy Winata, pemilik group Artha Graha membuka kunci kandang Panti. Pengusaha kelahiran Taiwan ini menjadi pelopor karantina harimau. Lalu, Zulkifli Hasan S.E, Menteri Kehutanan kita yang baru membuka pintu kandang Panti. Start yang bagus pak! Semoga kehidupan hewan liar di Indonesia bisa diperhatikan dan dijaga. Karena bila tidak sekarang, nasib binatang cantik ini akan sama seperti 2 subspecies lainnya, yaitu harimau Jawa dan harimau Bali yang sudah dinyatakan punah :(

Panti yang waspada tidak begitu saja keluar dari kandangnya melainkan perlahan menghampiri kandang Buyung yang belum dibuka. 5 menit setelah dia berputar-putar disekitar sana, Panti kemudian berlari menuju semak-semak. Sungguh suatu momen yang indah melihat makhluk hidup berlari menuju kebebasannya :D Buyung kemudian dilepas beberapa saat kemudian.
"Kedua harimau ini telah dipasang alat GPS collar di leher mereka untuk mendeteksi keberadaan dan aktivitas mereka. ", ucap Tony Sumampaouw, direktur Taman Safari Indonesia yang juga bekerja sama dalam konservasi satwa liar ini.

Harimau lainnya, Pangeran dan Agam, telah dilepaskan ke Hutan Tambling pada Juli 2008, sementara Ucok yang diperkirakan berusia 12 tahun dianggap terlalu tua dan rawan untuk dilepasliarkan. Sedangkan Selma masih dianggap liar dan diperkirakan pernah memakan manusia karena ditemukan rambut manusia pada fesesnya. Menurut saya, sebenarnya isu ini bukanlah karena kesalahan mereka. Pembabatan hutan secara ekstensif untuk pelebaran daerah perkebunan dan perumahan membuat habitat binatang-binatang malang ini semakin sempit sehingga mereka terpaksa berinteraksi dengan warga setempat. Setelah ditangkap warga, keenam harimau tersebut hidup terlantar. Bahkan ada yang dikerangkeng di kandang bekas orang utan di markas Korem setempat. Beberapa bulan dikandang, kondisi harimau itu kian memprihatinkan. Ada yang terserang tumor rahang, jantung, hati, hingga cacingan. Hal itu karena pola makan dan kondisi kerangkeng yang tidak memenuhi syarat. Artha Graha Peduli kemudian mengevakuasi mereka ke TWNC. (Sumber diambil dari Bataviase.co.id :Terbiasa Makan Manusia, Tak Jadi Dilepas)

Credit: Foto-foto diatas diambil dari (sumber: sains.kompas.com) dan (sumber:ulun.lampunggech.com)

WHAT CAN WE DO?
  • Sebarluaskan berita ini ke keluarga, teman dan kerabat Anda
  • Cegah perambahan hutan dengan lebih menghemat kertas seperti memakai kertas bolak-balik dan daur ulang
  • Dukung kampanye-kampanye dan kegiatan-kegiatan dari lembaga-lembaga wildlife terkait, seperti meng-add facebook TWNC
  • WWF Indonesia akan mengadakan "Save The Tiger Campaign" tanggal 14 Februari nanti bertepatan dengan Tahun Baru Cina yang menandakan awal tahun macan. Info bisa dilihat di WWF Indonesia
  • Keep in mind, that Every living things has life, but only human race has the logic. Karena itu kita sebagai makhluk hidup yang berakal budi harus bisa menghargai makhluk hidup lainnya!!